jkiagape.org

News

The latest message and news around church

Hidup tenang dan tentram

Firman: Mazmur 131: 1-3

Pemazmur Daud yang sangat mengenal Tuhan dan bahkan Tuhan juga mengakui, dikatakan “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu dan yang melakukan segala kehendakKu” (Kis 13:22). Daud bermazmur menyatakan “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari padaNyalah keselamatanku” (Maz 62:2) dan diulang di dalam perikop ini katanya “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku” (ay 2)(KB: Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram). Apa yang dimiliki dan diyakini sehingga Daud berbuat dalam hidupnya?

1. Merendahkan diri dihadapanNya
“Tuhan, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong” (ay 1). Siapakah Daud? Daud adalah seorang raja yang tidak perlu diragukan bahwa ia memiliki kekayaan dan kedudukan, di damping oleh sekian banyak tentara yang dapat mengamankan dia. Tekad Daud bahwa ia tidak mau tinggi hati atau sombong. Daud menyadari tanpa pertolongan dan campur tangan Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini yang perlu pula kita sadari, Tuhan yesus berkata “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Hati Daud sangat lembut dan rendah di hadapanNya dan tidak pernah berkeras hati padaNya, nurut dan siap ditegur, “Selidikilah aku, ya Allah dan kenallah hatiku ... apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Maz 139:23-24). Sewaktu ia diangkat menjadi raja, “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah ... sehingga Engkau membawa aku sedemikian ini” (2 Sam 7:18). Tuhan Yesus berkata “ .. merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

2. Menyerahkan sepenuhnya padaNya
“seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya” (ay 2) (KB: berbaring tenang di pangkuan ibunya). Tenang setelah menikmati dan dipuaskan oleh susu ibu atau dapat dinyatakan sebagai berkat Ilahi. Ini yang dapat dinyatakan sebagai tanda penyerahan diri kita yaitu puas dan bersyukur! Dikatakan “aku tidak mengejar hal-hal yang besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku” (ay 1) – Daud senantiasa mengontrol ambisi pribadi dan bertanya kepada Tuhan! Di saat ia berperang melawan Filistin, “Bertanyalah Daud kepada Allah; Apakah aku harus maju ...? ... Tuhan menjawab: Majulah ...” (1 Taw 14:10) (baca ay 14). Yang dinyatakan Rasul Yakobus agar kita mengikut sertakan Tuhan, “Jika Tuhan menghendakinya kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (Yak 4:15). Kesadaran yang dibutuhkan, “... Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan ...” (Rom 8:28).

3. Menaruh harapan pada Tuhan
“Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel dari sekarang sampai selama-lamanya” (ay 3). Daud di dalam kesuksesan hidup, tidak menganggap kemampuan dan kekuatannya tetapi tetap menyatakan, “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan ya Tuhan? KepadaMulah aku berharap” (Maz 39:8). Tuhan adalah sumber pengharapan kita, “Allah yang Maha Besar dan dahsyat ...” (Neh 1:5). Tuhan juga menyatakan “Jangan berharap pada manusia sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas ....” (Yes 2:22). Nabi Yeremia berkata “Diberkati orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapan pada Tuhan” (Yer 17:7). Bukankah kita hidup mau diberkati Tuhan? Andalkan dan berharaplah padaNya! Bagaimana agar kita dapat berharap pada Tuhan? Berharap dan iman itu merupakan kesatuan (baca Ib 11:1) dari sebab itu miliki iman dikatakan “iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rom 10:17) – selidiki sehingga kita mengenal Kristus dan berharap padaNya.

Agape on Video

Visual presentation of latest event
JKI Agape Church Sydney

Agape on twitter

Announcements from church