News

The latest message and news around church

Peran ibu atau istri yang rohani

Firman: 1 Petrus 3: 1-7

Surat Rasul Petrus kepada jemaat Tuhan,  menasihatkan  keluarga  untuk hidup sesuai dengan panggilanNya agar mampu membina keluarga bahagia. Pemazmur berkata “Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya” (Maz 128:1). Dan inilah yang dinyatakan Rasul Petrus tentang kehidupan istri dan suami, yaitu: 

1. Ibu menjadikan keberhasilan
“tunduklah kepada suami ... jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman ... tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, ... melihat ... murni dan salehnya” (ay 1-2). Janji Tuhan, istri dapat memenangkan suami dan membawanya kembali ke jalur berkat Tuhan tanpa perkataan! Dibutuhkan “tunduk” dan gunakan “perhiasanmu ... yang tidak binasa berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah” (ay 4). “roh lemah lembut” yaitu tidak menyala dalam kemarahan, tidak berbantah walaupun ada perkataan kasar sedangkan “roh tentram” adalah tenang dan membawa damai . Penulis Amsal menyatakan peran wanita: “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri” (Ams 14:1)

2. Ibu dipanggil sebagai penolong
“yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya ... tidak takut akan ancaman” (ay 5-6). Tunduk! Karena suami telah dipanggil oleh Tuhan sebagai “kepala istri” (Ef 5:23) sedangkan istri dijadikan Tuhan sebagai “penolong baginya” (Kej 2:18). Peran istri adalah menolong suaminya di dalam segala hal untuk menjadikan suaminya berhasil. Dunia mengakui dibalik keberhasilan seorang pria pasti ada seorang wanita! Ingat wanita adalah penolong! Pernyataan tunduk bukan berarti suami dapat berbuat semaunya sendiri, menekan istri. Rasul Petrus berkata orang “yang menaruh pengharapan kepada Allah ...tidak takut ancaman”. JanjiNya “Janganlah takut ... Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu dan akan menghindarkan kakimu dari jerat” (Ams 3:26). Maju terus, “rela menjalankan pelayanannya ...seperti orang ... melayani Tuhan...” (Ef 6:7)

3. Ibu dinyatakan teman pewaris
“Hai suami-suami hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan” (ay 7). Satu ayat untuk suami! Perintah untuk “hidup bijaksana” dan “hormatilah” karena istri adalah “teman pewaris” (KH: sekutu ... dalam menerima berkat Allah). Jadi berkat keluarga tidak dapat dikatakan karena suami atau karena istri! Satu ada dalam kutuk maka seluruh keluarga terkena dampaknya! Harus bersatu dan bekerja sama! Suami harus mengenal kewanitaan, istrinya dengan a) hidup bijaksana – harus tahu kebutuhannya (kasih sayang dan mood) dan b) hormat (tepatnya: menghargai) sebagai wanita yang lemah (lemah fisik) – harus tahu diri untuk senantiasa menjadi pelindung. Dampak membina hubungan dikatakan “supaya doamu jangan terhalang” (ay 7).

Agape on Video

Visual presentation of latest event
JKI Agape Church Sydney

Agape on twitter

Announcements from church