Cara hidup dalam kebenaran

November 6, 2017

Firman: Yeremia 10: 21-25

Nabi Yeremia menerima pernyataan Tuhan tentang bangsa Yehuda yang mengalami masa sulit, disebabkan karena “tidak mengenal Engkau .... tidak menyerukan namaMu” (ay 25) dan akibatnya “Kegemparan besar akan datang ... membuat kota-kota Yehuda menjadi sunyi sepi, menjadi tempat persembunyiaan serigala-serigala” (ay 22). Apakah ini yang diharapkan dalam kehidupan? Pasti tidak! Inilah pernyataan Tuhan agar kita hidup dalam kebenaran.

1. Minta petunjuk lewat FirmanNya
“Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk Tuhan” (ay 21a). Orang yang tidak meminta petunjuk Tuhan dinyatakan ‘bodoh” (Engl: NIV – senseless), tidak masuk akal. Kisah Raja Yosafat yang diajak berperang melawan Moab, ia berkata “Tidak adakah di sini seorang nabi Tuhan, supaya dengan perantaraannya kita meminta petunjuk Tuhan... salah seorang pegawai ... Di sini ada Elisa bin Safat … Berkatalah Yosafat: memang padanya ada firman Tuhan” (2 Raj 3: 11-12). Kita butuh Firman Tuhan! Pemazmur berkata “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz 119:105) – tidak akan tersesat!

2. Melangkah sesuai kehendakNya
“Aku tahu, ya Tuhan, bahwa manusia tidak berkuasa menentukan jalannya …. menetapkan langkahnya” (ay 23). Sadari ini yang harus terjadi! Penulis Amsal berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Ams 16:9). Hidup ini telah ditentukan oleh Tuhan! Nabi Yeremia berkata “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu ... untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer 29: 11). Bagaimana agar kita dapat melangkah sesuai kehendakNya? Berjalanlah bersamaNya! Dikatakan “Marilah kepadaKu ... Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:28-29).

3. Meletakkan diri dalam didik Tuhan
“Hajarlah aku, ya Tuhan, tetapi dengan selayaknya … supaya aku jangan Kaubinasakan!” (ay 24). “Hajarlah” (Engl: Correct me) atau didik kami! Penulis Ibrani menyatakan “Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya” (Ib 12:5) dan “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya” (Ib 12:10). Bagaimana cara Tuhan mendidik? Dinyatakan oleh penulis Ibrani, “…diperingatkanNya … menghajar … menyesah …” (Ib 12: 5-6). Kemudian Rasul Paulus menambahkan, “serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan” (1 Kor 5:5). Tujuannya dinyatakan “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan ... berbalik dan bertobat” (2 Pet 3:9). Supaya kita semua dapat menikmati KerajaanNya!